Tips Menghafal al Qur’an

TIPS MENGHAFAL AL QURAN ( Versi sebuah buku)

1. Pahami dulu maknanya baru dihafalkan

2. Tulis.. biar inget

3. Buat target. (contoh : setengah halaman per hari)

4. Pilih waktu yang tenang dan tempat yang tenang

5. Perbandingan hafalan baru dan takrir (murojaah hafalan yg telah dihafal) 1 : 10

6. Ayat-ayat yg baru dihafal harus dihafal 2 kali sehari selama seminggu.

Perlu menjadi catatan kawan, bahwa ada banyak metode menghafal al Quran. maka carilah sendiri apa yang cukup sesuai untukmu. tips diatas hanyalah versi dari sebuah buku.. kalo nggak cocok ya coba cari tips-tips yang lain. cari di buku lain, ato tanya om google, tanya-tanya ke seorang yg sudah hafizh ato memiliki hafalan yg banyak, dan lain-lain.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan ini kawan..
dan hal yg perlu diperhatikan ialah, berusahalah untuk istiqomah.. mungkin itu hal terberat dalam menghafal al Quran.. sering kali kita tidak disiplin. maka alangkah baiknya jika kita mencari lingkungan yg baik yg dapat mendukung kita untuk menghafal al Quran, jauhi kemaksiatan, cari seseorang yg bisa istiqomah membantu kita memurojaah hafalan. Atau bahkan carilah seorang RIVAL untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.. ^^

jadi.. DAH PADA SAMPE MANA NIH HAFALANNYA ??
^_^

(ketika istiqomah, menjadi sesuatu yg mahal dan berharga…)

ORANG-ORANG YANG MENGGENGGAM SESUATU DI ATAS BARA API

Penulis: Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilaly

Dari Abu Umayyah Asy Sya’ baniy berkata: Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah: “Ya Aba Tsa’labah apa yang engkau katakan tentang ayat Allah yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian (tetaplah di atas diri-diri kalian); tidak akan bisa orang-orang yang sesat itu memberikan mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.” (QS. Al Maidah: 105)

Berkata Abu Tsa’labah:
“Demi Allah, aku telah bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam tentang ayat itu, maka beliau ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya:
“Beramar ma’ruf dan nahi mungkarlah kalian sehingga (sampai) kalian melihat kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan (setiap orang mengatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya masing-masing.
Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padanya), setiap orang merasa ta’jub dengan akal pemikirannya masing-masing, maka peliharalah diri-diri kalian (tetaplah di atas diri-diri kalian) dan tinggalkanlah orang-orang awam karena sesungguhnya pada hari itu adalah hari yang penuh dengan kesabaran (hari dimana seseorang yang sabar menjalankan al haq dia akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat).
Seseorang yang bersabar pada hari itu seperti seseorang yang memegang sesuatu di atas bara api, seseorang yang beramal pada hari itu sama pahalanya dengan 50 orang yang beramal sepertinya.”
Seseorang bertanya kepada Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang artinya: “Ya Rasulullah, pahala 50 orang dari mereka?” Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam berkata: “Pahala 50 orang dari kalian (para Sahabat Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam)”
{HR.Abu Daud: 4341, At Tirmizi: 3058, dan dihasankan olehnya; Ibnu Majah: 4014, An Nasai dalam kitab Al Kubro: 9/137-Tuhfatul Asyrof, Ibnu Hibban: 1850-Mawarid, Abu Nuaim dalam Hilyatul Aulia: 2/30, Al Hakim: 4/322-dishohihkan dan disetujui oleh Adz Dzahabi, Ath Thahawi dalam Misykalul Atsar: 2/64-65, Al Baghowi dalam Syarhu Sunnah: 14/347-348 dan dalam Ma’alimul Tanzil: 2/72-73, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Jamiul Bayan: 7/63, Ibnu Wadloh Al Qurtubi dalam Al bida’u wa nahyuanha: 71, 76-77; Ibnu Abi Dunya dalam Ash Shobr: 42/1} Hadits Tsabit dari Rasulullah dengan syawahidnya (jalan lainnya).

Dalam hadits Rasullallah shallallahu’alaihi wasallam di atas menunjukkan:
- Kewajiban untuk terus beramal ma’ruf nahi munkar sampai datang masa yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
- Masa yang disifatkan oleh Rasullalllah shallallahu’alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa tidak bermanfaat lagi amal ma’ruf nahi munkar karena disebabkan kerusakan manusia pada waktu itu.

Terkadang ada pertanyaan yang mengatakan: bagaimana derajat pahala yang diberikan orang-orang yang bersabar dalam beramal di atas al haq pada waktu itu berlipat ganda dibandingkan dengan amalan para sahabat radhiallahu’anhum? Dimana, mereka adalah generasi pertama yang membangun Islam, menegakkan cahaya Islam, membuka negeri-negeri, meninggikan kekuasaan dan menancapkan Agama Allah.

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Sekiranya kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud setiap hari, tidak akan bisa menyamai mereka (para sahabat Rasullallah ‘alaihisshalaatu wasallam) meskipun setengahnya.” {Hadits shahih, lihat takhrijnya dalam (Juz’u Muhammab bin Ashim An Syuyukhihi: 12)}
Maka jawabannya adalah sesungguhnya para sahabat Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam adalah generasi yang telah masyhur amalannya, tiada satupun manusia setelah generasinya yang sebanding amalannya dengan mereka. Mereka telah menjalankan amal ma’ruf nahi munkar sebagai perkara yang besar untuk membuka dan menancapkan agama Allah yaitu Al-Islam.

Keberadaan mereka diawal Islam sangat sedikit disebabkan karena berkuasanya orang-orang kafir di atas al haq. Demikian juga di akhir zaman akan kembali keadaannya seperti di awal penegakkan Islam. Dimana janji tersebut dipersaksikan di atas lisan yang selalu benar perkataannya yaitu Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang telah mengkhabarkan akan terjadinya kerusakan zaman, dhohirnya fitnah, berkuasanya kebatilan, berkuasanya dan tingginya manusia dalam mengganti dan merubah al haq, terjatuhnya kaum muslimin kepada jalan yang ditempuh oleh golongan ahli kitab sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.

Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam bersabda yang artinya: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana datangnya.” (Hadits Mutawatir, lihat kitabku: Tuba lil Ghuroba, Al Ghurbatu wal Ghuroba, Penerbit Darul Hijroh, Damam)

Maka pasti terjadi -Wallahu a’lam- keadaan yang telah dijanjikan oleh Ash Shoodiq (yang benar perkataannya) shallallahu’alaihi wasallam yaitu Islam akan kembali seperti awalnya dimana lemahnya amar ma’ruf nahi munkar sehingga seseorang yang berdiri menjalankan al haq dalam keadaan dilingkupi ketakutan dan dia telah menjual dirinya kepada Allah dalam doanya, sehingga Allah lipat gandakan pahalanya lebih besar dari pada keadaan para sahabat radhiyallahu ta’ala anhum yang mereka adalah orang orang yang mutamakin (tetap dan kuat) dalam beramar maruf nahi mungkar, dan pada waktu itu banyak sekali orang yang memberikan pertolongan kepada orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar serta banyak sekali orang yang menyeru kepada Allah Ta’ala (yakni pada zaman shahabat ).

Dan ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alihi wasallam yaitu ketika beliau mengkhabarkan bahwa pahala mereka akan dilipatgandakan sama dengan 50 orang amalan yang dilakukan oleh para sahabat radhiyallahuanhum, yang kemudian Nabi ‘alaihisshalatu wasallam mengatakan (artinya): “Karena sesungguhnya kalian (para sahabat) Di atas kebaikan dan dalam keadaaan kalian mendapatkan banyak
pertolongan sedang mereka dan orang-orang yang beramal di atas al haq (di akhir zaman) tidak mendapat pertolongan.”

Sehingga akhirnya sampailah pada zaman terputusnya amal kebaikan (tidak ada lagi orang-orang yang menjalankan amal kebaikan) karena lemahnya keyakinan & agama. Sebagaimana sabda Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam yang artinya: “Tidak akan tegak hari kiamat sampai tidak disebut (dikatakan) di bumi lafadz: ‘Allah Allah”. {HR.Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu}.

Hadits ini mempunyai makna tidak ada seorang muwahid (orang yang mentauhidkan Allah) pun yang tinggal di bumi, yang berdzikir mengucapkan lafadz ‘laa ilaaha illallah’ dan tidak seorang pun yang beramar ma’ruf nahi mungkar mengucapkan: “Aku takut kepada Allah”.

Apabila demikian keadaannya, seseorang yang berakal pada waktu itu menginginkan (berangan-angan) untuk mati sebagaimana sabda Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam (artinya): “Tidak akan tegak hari kiamat sehinggga seseorang berjalan dikubur saudaranya (seseorang) kemudian berkata: ‘Sekiranya aku menempati tempatnya.’ (Muttafaqun’alaih, dari hadist AbuHurairoh radliyallahu’anhu)

Siapakahالقابضون على الجمر ?
Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan tarbiyah dan bukan hizbi (golongan yang berbangga dengan kelompoknya).
Mereka adalah orang-orang yang teguh di atas asas Al-Qur’an dan As Sunnah, berdiri menghiasi dirinya dengan dakwah kepada keduanya dengan berlandaskan manhaj (jalan) kenabian, tidak tergoyahkan dengan nama, alamat, dan bentuk. Karena sesungguhnya kedudukan ini adalah bagian dari syi’ar-syi’ar ubudiyah (peribadatan) yang digariskan di atas petunjuk Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam
dan para sahabatnya.

Berkata Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziah ketika menyebutkan tanda orang-orang yang selalu menjalankan peribadatan (di atas dalil) dalam kitabnya Madarijus Salikin juz III/174):
“Mereka tidak menyandarkan dirinya pada suatu nama yang dengan nama tersebut mereka masyhur dikalangan manusia; tidak membatasi dengan satu amal dari sekian banyak amal yang dengannya dikenal manusia (hanya sebatas satu amalan) karena hal ini menyebabkan madharat dalam peribadatan; tidak dibatasi dengan nama tertentu yang menyebabkan perbedaan dan perpecahan; tidak terkait dengan formalitas, isyarat, kesempurnaan dan peraturan yang ditetapkan. Bahkan sebaliknya, apabila ditanya:

Siapa syaikhnya?
Dia akan menjawab: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam”

Apa jalan yang ditempuh ?
Dia akan menjawab: “Al-ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam)

Apa pakaiannya?
Dia kan menjawab: “Pakaiannya adalah taqwa.”

Apa madzhabnya?
Dia akan menjawab: “Berhukum di atas Assunnah”

Apa yang dituju dan dicari?
Dia akan menjawab: (يريدون وجهه)
“Mereka menghendaki wajah Allah”.
(Q.S. Al An’aam : 52).

Dimana tempat jaganya?
Dia akan menjawab: Firman Allah yang artinya :
“(Bertasbih) di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. (yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan sholat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”
(Q.S. An Nuur : 36-37)

Pada siapa nasabnya disandarkan?
Dia akan menjawab: “Bapaknya adalah Islam, tidak ada bapak selainnya.”

Apa makanan dan minumannya?
Dia akan menjawab: “Hidup di bawah pohon sampai bertemu Robb-nya”

Dan sungguh dia telah ditanya oleh sebagian imam mengenai “sunnah”.
Maka beliau (Ibnu Qayyim) menjawab: “sesungguhnya ahlussunnah tidak menyandarkan kepada nama, kecuali nama sunnah.”

Sebaliknya, golongan hizbi adalah golongan yang menetapkan dan terikat dengan peraturan resmi dari amalan “kebajikan resmi” dan istilah-istilah yang dihiasi (distempel), sehingga terlihat “kebajikan resmi” itu adalah satu-satunya amal yang sesuai dengan sunnah. Tetapi pada hakekatnya mereka adalah golongan yang jauh dari bimbingan sunnah Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam. Apabila disebutkan kepada mereka perkara yang berkaitan dengan al wala’ fillah (pemberian loyalitas karena Allah), permusuhan yang disebabkan atas pemberian al wala’ fillah, amar ma’ruf nahi mungkar, mereka akan mengatakan dan menuduh bahwa yang demikian adalah perkara yang berlebihan dan akan mengakibatkan kerusakan dan madhorot.

Apabila mereka melihat diantara sesamanya (anggotanya) terdapat orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) hal-hal tersebut, mereka akan mengeluarkannya dan
mencari pengganti yang sesuai dengan peraturan mereka

Saya tidak mengetahui kapan mereka memahami bahwa sesungguhnya lingkaran Islam itu paling luas, persaudaraan di atas dasar keimanan itu yang paling penting, dan jalan yang ditempuh oleh generasi salaf itu yang paling alim, paling hakim, dan paling selamat. Sesungguhnya seluruh golongan hizbi dalam keadaan berbangga dengan kelompok dan golongannya masing-masing. Sungguh mereka telah menyandarkan qudwah-nya (suri tauladan) kepada selain Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, menyeru ke jalan selain jalan beliau , memberikan al wala’ wal bara’ karena sebab selain beliau shallallahu’alaihi wasallam . Mereka telah menulis perkataan yang tidak bersumber dari alqur’an dan assunnah dan menyandarkan diri kepadanya.

Apabila dibuka hijab yang menutupi mereka (golongan orang-orang hizbi) akan ditemukan bahwa mereka adalah golongan yang mentaati kebakhilan, mengikuti hawa nafsu, dan mengagungkan dunia atau kemewahan (mereka menyatakan dirinya di atas agama Islam dengan dasar hawa nafsunya masing-masing. Dan Islam bertentangan dengan apa yang mereka sandarkan padanya), mereka merasa takjub dengan akal pemikirannya masing-masing.
Oleh sebab itulah Islam yang hakiki sangat asing dan orang-orang yang mengamalkannya sangat asing sekali keadaannya diantara manusia.

Bagaimana tidak mungkin mereka sebagai orang-orang yang sangat asing keberadaannya diantara manusia ?! Mereka adalah satu kelompok yang sangat sedikit pengikutnya diantara 72 golongan (sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam) yang masing-masing mempunyai pengikut, pemimpin, bendera, dan wilayah yang mereka tidak berdiri dan berjalan kecuali menyimpang dari jalan yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ?!
Apabila satu kelompok tersebut mengamalkan salah satu hukum Islam yang hakiki, yang telah dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka hal tersebut menjadi sesuatu yang paling bertentangan dengan hawa nafsu, kenikmatan, syubhat, dan syahwat dari 72 golongan tersebut. Karena syubhat dan syahwat merupakan cita-cita akhir dari kehendak dan maksud mereka (72 golongan).
Satu kelompok tersebut adalah sebagai orang-orang yang paling asing diantara orang-orang yang menjadikan kebakhilan sebagai perkara yang dita’ati, hawa nafsu sebagai perkara yang diikuti; dan dunia (kemewahan) sebagai perkara yang diagungkan.
Pahala yang sangat besar ini [sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di atas (lihat edisi 11) diberikan kepada mereka karena keberadaannya yang sangat asing diantara manusia, dan berpegang teguhnya kepada sunnah Rasulullah shallallahu’alihi wasallam diantara kegelapan hawa nafsu dan pemikiran manusia.

Apabila seorang mukmin yang telah diberikan rizki pemahaman dalam agamanya, kefakihan dalam sunnah Rasul-Nya, pemahaman dalam kitab-Nya, hendak berjalan dan mengamalkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan dia melihat manusia dihiasi dengan hawa jalan nafsu, bid’ah, kesesatan, dan penyimpangan dari shirothol mustaqim yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, maka orang mukmin tersebut telah mempersiapkan dirinya menjadi tempat celaan, fitnah, caci makian, dan hinaan dari orang-orang yang jahil dan ahlul bida’. Demikan juga penggembosan dan peringatan kepada manusia untuk menjauhinya. Sebagaimana keadaan salaf (pendahulu) mereka, yaitu Rasulullah shallallahu’alihi wasallam sebagai imamnya orang-orang yang beriman dan pengikut-pengikutnya dari perlakukan orang-orang kafir pada waktu itu.
Apabila orang-orang yang jahil dan ahlul bida’ diseru untuk kembali ke shirothol mustaqim, dengan segala penghinaan yang ada pada mereka, mereka tetap berbangga di atas kesesatannya.

Maka seseorang yang tetap di atas Islam yang hakiki (satu kelompok yang telah di khabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam), dia berada dalam keadaan:
-Asing dalam agamanya, karena kerusakan agama kaum muslimin.
-Asing di dalam berpegang teguh di atas sunnah, karena berpegang teguhnya kaum muslimin dengan bid’ah-bid’ah.
-Asing dalam akidahnya (keyakinannya), karena rusaknya akidah kaum muslimin.
-Asing dalam sholatnya, karena buruk dan rusaknya sholat kaum muslimin.
-Asing dalam manhajnya (jalannya), karena kesesatan dan kerusakan jalan yang ditempuh oleh kaum muslimin.
-Asing dalam penyandarannya, karena bertentangan dengan penyandaran kaum muslimin.
-Asing dalam muamalahnya (hubungannya) dengan kaum muslimin, karena kaum muslimin bermuamalah di atas hawa nafsu mereka.

Kesimpulannya : Dia sebagai seorang yang asing dalam seluruh perkara dunia dan akhiratnya, dia tidak menemukan keumuman kaum muslimin yang membantu dan memberikan pertolongan kepadanya. Dia menjadi orang yang:
- ‘Alim diantara orang-orang yang jahil,
- Pembawa sunnah diantara orang-orang ahlul bida’,
- Da’i yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya diantara da’i-da’i yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah-bid’ah,
- Memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf (baik) dan melarang dari perbuatan mungkar diantara kaum muslimin yang menganggap perkara yang ma’ruf adalah mungkar dan perkara yang mungkar adalah ma’ruf.
(Madarijus Salikin: Ibnu Qoyyim Al Jauziyah; Juz III/198-200)

Mereka adalah kelompok pembeda antara al haq dan al bathil yang berada di atas dasar alqur’an dan assunnah baik dari sisi akidah, manhaj, maupun amal.
Kejelasan seorang mu’min, baik da’i maupun mad’u (kaum muslimin yang diseru) berada di atas dasar al haq merupakan perkara yang dhoruri (mendasar), karena kebathilan banyak dihiasi dan ditampilkan dalam bentuk atau pakaian iman. Khususnya golongan orang-orang hizbi dan pribadi-pribadi yang dahulunya mengetahui dan memahami tentang iman kemudian menyimpang dan menyelisihinya. Karena mereka berkeyakinan bahwa setelah penyimpangannya tersebut, pemikirannya tetap di atas petunjuk (kebenaran). Apabila seorang da’i demikian keadaannya, maka dia akan menimbulkan kerusakan terhadap Islam yang hakiki.

Seorang muslim yang tetap dan kokoh dalam menjalani agamanya akan senantiasa adil dalam muamalahnya. Tidak bersifat lemah lembut kepada pendusta-pendusta dari golongan Yahudi, Nashara, dan yang lainnya, menempatkan lemah lembut dan kebalikannya sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya; paling baik muamalahnya kepada keluarga, isteri dan anak-anaknya; paling tinggi pemeliharaannya kepada sesuatu yang mudah, sulit, dan perkara yang berkaitan dengan kabar gembira. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):
“Maka janganlah kalian mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kalian bersikap lunak (lemah lembut) lalu mereka bersikap lunak (pula kepada kalian)”. (Q.S. Al Qolam : 8-9)
“Dan orang-orang yang mengikuti syahawatnya bermaksud supaya kalian berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”.(Q.S. An Nisaa’ : 27)
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (Q.S. Al Baqoroh : 120)

Perhatikanlah sikap yang haq dalam melepaskan diri dari kesyirikan, dan orang-orang yang menjalankannya di dalam alqur’an (yang artinya):
”Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan beribadah kepada apa yang kalian ibadahi, dan kalian bukan penyembah Robb yang aku ibadahi, dan aku tidak pernah beribadah kepada apa yang kalian ibadahi, dan kalian tidak pernah pula menjadi penyembah Robb yang aku ibadahi. Untuk kalianlah agama kalian dan untukkulah agamaku”. (Q.S. Al Kaafirun : 1-6)

Dan perhatikanlah permisalan yang dicontohkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada para sahabatnya radhiallahu ta’ala anhum: {“Kami duduk disisi Rasulullah ‘alaihisshalaatu wasallam, maka beliau membuat satu garis lurus di depannya demikian, dan berkata: ‘Ini adalan jalan Allah Azza wa Jalla’. Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut, dan berkata: ‘Ini adalah jalan-jalan syaithon’. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis lurus yang ada di tengah-tengah dan beliau membaca ayat yang mulia ini (yang artinya):
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertaqwa”.(QS. Al An’am: 153)}.
{Hadits Shahih dari jalan sahabat Jabir bin abdillah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu Ta’ala anhum.Lihat takhrijnya dalam Kitab Kami : Al Junnah fi Takhrijis Sunnah , Hal 5-8).
(Insya Allah Bersambung)
(Diterjemahkan Oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid Dari Kitab Al Qabidhuna ‘ala Al Jamri)

Sumber : BULETIN Dakwah AL ATSARY, Semarang EDISI 11/Th.I

(sumber : http://www.indonesiaindonesia.com/f/6858-orang-orang-menggenggam-atas-bara-api/)

Mengapa KAUM MUSLIMIN saat ini, Lebih buruk dari keadaan KAUM MUSYRIKIN JAHILIYAH

Kawan, tahukah kalian ?

Orang-orang musyrik pada zaman rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam meyakini bahwa Rabb mereka adalah Allah.. mereka meyakini bahwa pencipta alam semesta ini dan pemberi rizki adalah Allah.

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka :’Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? tentu mereka akan menjawab :’Allah !’”
(QS.Lukman : 25)

lalu mengapakah mereka masih disebut orang yg kafir ?
Jawabannya ialah karena mereka mengadakan sekutu-sekutu selain Allah. Mereka tidak memurnikan penyembahan mereka kepada Allah. Sembahan-sembahan mereka banyak, meski mereka yakin bahwa Rabb mereka adalah Allah. Mereka meyakini bahwa sesembahan itu banyak.

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’”
(QS. Az-Zumar : 3)

Mereka tetap dikatakan kafir karena tidak memurnikan peribadahan mereka kepada Allah, meski mereka meyakini bahwa Rabb mereka hanyalah satu, yaitu Allah. Maka hal ini adalah landasan bahwa tauhid Rububiyah (pengakuan Allah sebagai pencipta alam, pemberi rizki, pengurus makhluk, dll) saja, tidak cukup untuk memasukkan seseorang kepada Islam.
Ia harus disertai keyakinan dan pengamalan bahwa tidak ada Ilah (sesuatu yg disembah) yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah saja. Inilah yang disebut tauhid uluhiyah.

Maka kaum musyrikin dahulu mengetahui bahwa ungkapan ‘Laa ilaaha illallaah’ menuntut seseorang untuk membebaskan diri dari ibadah kepada selain Allah. Hal inilah yg menyebabkan mereka enggan masuk kedalam Islam. Karena dengan masuk Islam mereka tahu bahwasanya mereka harus meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka itu, yg merupakan kebiasaan nenek moyang mereka.

Adapun kebanyakan kaum muslimin saat ini, mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.. namun sungguh mereka tidak mengerti konsekuensi dari kalimat ini.. dan akhirnya kita jumpai mereka yg menyatakan ‘Laa ilaaha illallaah’, beristighatsah (memohon pertolongan) kepada selain Allah, berdoa kepada orang-orang mati dengan alasan tawassul (ini adalah tawassul yg bathil), menyembelih untuk selain Allah (termasuk membuat sesajian-sesajian kepada jin dll), benadzar kepada selain Allah, mempercayai jimat, dan lain sebagainya.
mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ sementara ia beribadah kepada selain Allah, maka ia tidak ada bedanya dengan kaum musyrikin dalam keyakinan, walaupun secara zhahir ia adalah seorang Muslim, karena ia mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’. Maka dengannya kita bisa nyatakan bahwa ia adalah seorang Muslim secara lafazh yang zhahir.

“… Maka jika ia mengucapkannya, maka terjagalah darah hartanya dariku kecuali dengan haknya, dan perhitungannya dikembalikan kepada Allah.”
(HR.al-Bukhari danm Muslim)

Maka sebagaimana perkataan seorang imam yakni syaikh al-albani, sesungguhnya keadaan kaum muslimin saat ini lebih buruk dari keadaan kaum arab pada zaman jahiliyah, pertama dari sisi buruknya pemahaman mereka akan kalimat Tauhid, karena orang-orang musyrik dahulu benar-benar memahaminya, akan tetapi mereka tidak mengimaninya, sedangkan kebanyakan kaum muslimin saat ini mengucapkannya akan tetapi tidak meyakininya. Mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ akan tetapi mereka tidak mengimani maknanya dengan benar. (mereka menyembah kuburan dan menyembelih bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala serta berdoa kepada orang yang telah mati.)

Bagaimanakah akan bersatu Umat Islam ini, jika pemahaman akan tauhid saja, mereka lebih buruk dari kaum Musyrikin dahulu ?!
Bagaimana akan jaya umat ini dengan pemahaman yang melenceng seperti itu ? kendati kita kumpulkan mereka dalam sebuah jama’ah, semuanya?!
Wallohul musta’an.

Subhanakallahumma wa bihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa atuwbu ilayk. (doa penutup majlis)

( Referensi : “Menyongsong Fajar Kemenangan Islam” karya imam al-albani)

cahaya

sinar

Ssssstttt… Rahasia Lelaki

“Ada dua kelompik ahli neraka yang belum pernah saya lihat, (pertama) lelaki yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dipergunakan untuk memukuli manusia dan (kedua) para wanita yang berpakaian (tapi) telanjang (karena pakaian mereka yang tipis dan pendek), berlenggak-lenggok. Kepala mereka seakan punuk unta yang berleher panjang, mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mencium aromanya padahal aroma surga tercium dari jarak sekian dan sekian”

{Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad dan Imam Muslim dalam Shahihnya.}

Termasuk kedalam wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang ialah para wanita yang memakai pakaian-pakaian dan celana ketat, sehingga menampakkan lekuk-lekuk tubuh mereka…

Sssssssttttt….
Ini rahasia kita (para lelaki)….
Aku ingin berbagi… apakah perempuan-perempuan yang termasuk ke dalam hadits diatas mengira bahwa kita mau menjadikan mereka sebagai teman hidup (istri) kita ??!! terkadang aku heran… apakah mereka mengira bahwa para lelaki (yang shaleh) akan mau menjadikannya sebagai pasangan, padahal mereka telah menjajakan kecantikan tubuhnya kepada semua lelaki… Lalu kemudian suaminya hanya akan menjadi ‘bekas’/ ‘sisa-sisa’ orang yg menikmati keindahannya ?! sungguh betapa jeleknya persangkaan mereka…

Sssssttt….
ini rahasia kita (para lelaki)…
Janganlah kita tertipu oleh cantiknya paras mereka.. indahnya tubuh mereka.. karena semua itu kelak akan sirna.. betapa banyak lelaki yg tak bahagia meski telah memiliki istri yg cantik jelita …

Sssssssttttt….
Sekali lagi, ini rahasia kita (para lelaki)…
Pilihlah pasangan hidup (istri) yang menjaga keindahannya dari tatapan para lelaki…
Pilihlah wanita yang baik agamanya, agar kamu beruntung…
Bukankah kita (sebagai PRIA) akan cemburu jika mengetahui pasangan kita di lihat oleh banyak mata nakal COWOK lainnya ?!

Maka sekali lagi, pilihlah wanita yang pandai menjaga auratnya, yang tidak banyak menarik pandangan lelaki lain, baik karena pakaiannya yang mencolok warnanya, ketat, ataupun memang sengaja terbuka… dimana sikap kita bro ??? bahwa kita takkan takluk oleh wanita seperti itu…
Dan ketahuilah, bahwa sebaik-baik perhiasan ialah wanita yang shalehah…

So, untuk kita para lelaki yang mengharapkan istri yang shalehah… perbaikilah diri selalu.. karena kita pun tak sempurna bukan ?!
Karena tidaklah laki-laki yg baik melainkan pasangannya ialah wanita yang baik pula…
Dan tidaklah pria yg buruk, melainkan pasangannya wanita yg buruk pula…

Sssssttt…
Jangan bilang siapa-siapa…
Cukup sebarkan saja pada para pria di seluruh dunia…
dan jika ada wanita yg bertanya… katakanlah,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(QS. An Nuur: 26).

Mudah-mudahan kita dan mereka senantiasa memperbaiki diri… ^_^

Adakah ‘Waktu IMSAK’ dalam Islam ?!

dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu dia berkata bahwa rasulullah shallallahu’alayhi wasallam bersabda : “Fajar itu ada dua : Adapun fajar yang pertama, makanan (sahur) tidak diharamkan dan tidak diperbolehkan mengerjakan shalat. Sedangkan fajar kedua, makanan (sahur) diharamkan dan dibolehkan mengerjakan shalat shubuh”

(HR. Inu Khuzaimah, al Hakim, ad Daruquthni, al Baihaqi. sanadnya shahih)

ketahuilah saudaraku, bahwa :

a. fajar kadzib : berwarna putih panjang yang menjulur ke atas seperti ekor serigala.

b. fajar shadiq : berwarna merah memanjang dan melintang di atas puncak gunung, yang tersebar di jalanan, gang gang, dan rumah-rumah. Inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum puasa dan shalat.

Ketahuilah bahwa sifat-sifat fajar shadiq adalah yang sesuai dengan ayat yang mulia ini: “sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” Jika cahaya fajar telah tampak di ufuk dan puncak gunung sehingga terlihat seakan-akan ia sebagai benang putih, lalu tampak pula di bagian atasnya benang warna hitam, yaitu sisa-sisa malam yang akan segera beranjak pergi.

Jika hal tersebut benar-benar tampak, maka berhentilah dari makan dan minum serta bercampur. Jika tangan anda masih memegang gelas berisi air minum atau minuman, maka minumlah dengan tenang dan nikmat karena itu sebagai keringanan yang sangat berharga dari Rabb yang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang mengerjakan puasa sekalipun anda telah mendengar adzan berkumandang.

“jika salah seorang di antara kalian mendengar suara adzan sementara bejana masih di tangannya (sedang meneguk air minum), maka janganlah dia meletakkannya hingga keperluannya pada bejana itu terpenuhi.”

{driwayatkan oleh Abu Dawud (235), Ibnu Jarir (3115). sanadnya hasan. Hadits ini mpunyai jln lain driwayatkan oleh Ahmad (II/510) mlalui jln Hammad, dari ‘Ammar bin ‘Ammar, dari Abu Hurairah, & sanadnya shahih.}

diriwayatkan oleh abu umamah radhiyallahu’anhu, dia bercerita: “pernah iqamah dikumandangkan sementara bejana masih di tangan ‘Umar. Dia bertanya: ‘apakah aku boleh meminumnya wahai rasulullah ?’ Beliau menjawab : ‘Boleh’. Maka ‘Umar pun meminumnya.”

{Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (II/102) melalui dua jalan darinya}

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa pengadaan istilah imsak dari makan sebelum terbit fajar shadiq dengan alasan kehati-hatian adalah bid’ah, yang diada-adakan.

[Di ringkas dari terjemah Kitab Shifatu shaumin Nabi fii Ramadhaan, karya Abu Usamah Salim bin 'Ied al Hilali dan 'Ali Hasan 'Ali 'Abdul Hamid. yg diterbitkan oleh Pustaka Imam asy'-syafi'i]

fandi says :

Maka Imsak merupakan perkara yang diada-adakan dan dilarang untuk mengikuti/ memakmurkannya, berdasar sebuah kaidah yang mengungkapkan bahwa hukum asal semua ibadah ialah haram kecuali apa-apa yang telah dihalalkan oleh syari’at yang agung ini.. Semoga dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat ..

Fawaid QS.Ali Imran:110

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik” (QS. Ali Imran:110)

Suatu saat ana ikut kajian, lalu sang ustad membacakan 10 fawaid dari ayat ini, diantaranya :

1. Generasi pertama umat ini ialah sebaik-baik umat.

2. Jika umat Islam ingin jadi umat yang terbaik maka wajib bagi mereka mengikuti jejak salafus shalih.

3. Umat Islam diutamakan atas umat lain dengan sifat yang ada pada mereka, yakni menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

 4. Jika sifat ini hilang maka predikat umat terbaik pun akan hilang..

5. Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan asas kebaikan.

6. meningkatnya amar ma’ruf nahi mungkar pada seseorang maka akan meningkat juga keimanan mereka.

7. Orang yang beramal itu bertingkat-tingkat derajatnya. (begitu pula yang melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar)

8. Celaan kepada ahlul kitab karena mereka kufur kepada rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam.

9. Diantara ahlul kitab ada yang beriman dan ada yang fasik.

10.Ahlul kitab, jika mereka ingin selamat, maka wajib masuk kepada dinul Islam.

Faedah yang luar biasa ya?! memacu semangat… namun kawan, dalam ber-amar ma’ruf nahi mungkar ada adab,cara dan ketentuannya.. salah satu contohnya ialah tidak boleh mengingkari kemungkaran jika dengan pengingkaran tersebut akan dihasilkan mudharat (kerusakan) yang lebih besar.. dan tidak boleh juga mengingkari kemungkaran yang dengan pengingkaran tersebut diperkirakan akan dihasilkan maslahat dan mudharat yang seimbang.. trus contoh hal lainnya ialah ada pengingkaran terhadap sebuah kemaksiatan yang harus dilakukan bersama-sama dengan pemerintah.. (tidak bisa dilakukan sendiri/ oleh umat islam aja, tanpa ulil amri)

maka tuntutlah ilmu, agar kita dapat mengetahui hal-hal seperti ini dan tidak tergelincir kepada pemahaman salah yang mengantarkan kita kepada kerusakan yang lebih besar.. so, semangat aja gak cukup kawan..

ilmu adalah dasar sebelum beramal. dan ambillah ilmu itu dari sumber yang haq.. yakni dari al Quran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini..(salafus shalih). wallahua’lam

(Bagi yang ingin membaca lebih jelas mengenai tata cara, ketentuan, dan hal-hal mengenai ber-amar ma’ruf nahi mungkar, kamu bisa merujuk ke buku “amar ma’ruf nahi mungkar” yang ditulis oleh ustad Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Inilah JALAN dan MANHAJ Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam…

“Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda : ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah! jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al-an’aam: 153 )
{Shahih : HR. Ahmad, ad-Darimi,al-Hakim, dan al baghawi, dihasankan oleh syaikh al-albani}

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Apabila orang berakal yang menginginkan perjumpaan dengan Allah Ta’ala memperhatikan permisalan ini dan memperhatikan keadaan semua kelompok dari kalangan khawarij, mu’tazilah, jahmiyah,rafidhah, serta ahli kalam yang mendekati Ahlus Sunnah seperti Karramiyah, Kullabiyah, al-Asy’ariyah, dan selain mereka, bahwa setiap dari mereka memiliki jalan keluar dari apa-apa yang telah ditempuh oleh para shahabat dan Ahlul Hadits, dan setiap dari mereka menyangka bahwa jalan merekalah yang benar, niscaya orang yang berakal akan mendapati bahwa merekalah (firqah-firqah tersebut) yang dimaksud dalam permisalan ini yang diumpamakan oleh al-ma’shum (Rasulullah), yang beliau tidak berbicara dari hawa nafsunya, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.”

Perpecahan pada tubuh umat ini ialah suatu yang haq saudaraku..

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”
(Shahih : HR. Abu Dawud, Ahmad,al-Hakim, ad-Darimi. Dishahihkan oleh al Hakim dan syaikh al-albani)

72 golongan terancam dengan neraka dan 1 golongan yang berjalan diatas manhaj Rasulullah dijanjikan Surga… Janganlah kalian tertipu dengan ungkapan-ungkapan seperti ‘perbedaan adalah rahmat’ yang merupakan perkataan yg tidak ada asalnya. Persatuan umat tetap merupakan suatu yg harus diperjuangkan. Namun bukan bersatu diatas pemahaman yang salah… Persatuan yg haq ialah diatas pemahaman yang benar. Dan bukan lantas orang-orang yg berada pada 72 golongan tersebut kita jauhi dan biarkan… tetap kita harus menasehati mereka, entah dengan cara yg lemah lembut, keras, atau bahkan dengan cara Hajr. (lihat yg lebih maslahat)
Dan bukan juga lantas ancaman dalam hadits tersebut mendakwakan mereka selamanya di neraka saudaraku… mereka tetaplah ahlul kiblat (kaum muslimin), hanya saja jika mereka tetap pada jalan mereka, mereka akan terancam memasuki neraka terlebih dahulu sebelum memasuki surga.
ya, mereka tetap akan masuk surga nantinya karena keimanan mereka…
Tapi takutlah kita terhadap kebid’ahan (yang senantiasa mewarnai golongan yg sesat)… karena sebagian kebid’ahan dapat membawa seseorang kepada ke-syirikan. (na’udzubillahi min dzalik)

maka berpegang teguhlah kepada Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para shahabat, yg merupakan generasi terbaik umat ini, yg langsung ditarbiyah oelh Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam..
maka pesanku, jika seorang mengklaim sesuatu/ menghukumi sesuatu/mendakwakan suatu yg ada hubungannya dengan agama yang haq ini, maka tanyakanlah kepadanya..
apa dalilnya ? benarkah dalilnya? Shahihkah?
Jika benar, maka lihatlah cara mereka memahaminya…
sesuaikah dengan pemahaman para sahabat rasulullah ? ataukah tidak..
Inilah sebabnya mengapa seorang yang telah hafal al-Qur’an, belum tentu ia berada dalam kebenaran dalam menghukumi sesuatu.. kenapa? karena jika ia tidak memahaminya sesuai dengan pemahaman sahabat, maka tetap ia berada dalam kesalahan..
Maka perhatikanlah darimana kalian mengambil suatu pemahaman.. dari ahlus sunnah-kah? atau ahlul bid’ah? atau seorang yang memang jahl (bodoh)?

dan salifiyyin.. telah mengambil pemahaman mereka dari sumber yang tepat… para sahabat Rasulullah.. Generasi terbaik umat ini.. yang sedekah mereka sebanyak satu genggaman tangan lebih besar pahalanya daripada sedekah kita sebesar gunung uhud.. yang rasulullah telah menyatukan sunnahnya dengan sunnah sahabat dalam sebuah haditsnya..
Bukankah Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam telah benar-benar meninggalkan kita diatas agama yang benar-benar jelas ?! yang malamnya seperti siangnya..
hanya terkadang, kita saja yang kurang paham.. terkadang kita saja yang kurang giat menuntut ilmu..
Islam ini indah saudaraku… ya, Islam ini indah.. andai saja kita benar-benar mengerti..
Barakallahu fiik. ^_^ (yang rajin buka QS. Yusuf : 108 ya..)

Global Warming …

Secara singkat global warming ialah peristiwa meningkatnya temperature rata-rata di laut dan di daratan bumi. Proses menghangatnya suhu permukaan bumi ini disebabkan oleh faktor pembakaran bahan bakar fosil, batu bara, minyak bumi dan gas alam. Pembakaran ini menghasilkan gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang disebut dengan gas rumah kaca seperti metana, belerang, klor, dan lain-lain. Pelepasan gas gas tersebut menyebabkan munculnya fenomena efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan gas-gas rumah kaca (GRK) di troposfer, yang menyebabkan terperangkapnya radiasi gelombang panjang (berupa gelombang infra merah) hasil radiasi balik (back radiation) permukaan bumi, setelah permukaan tersebut menerima radiasi matahari.Efek rumah kaca yang disebabkan oleh GRK pada konsentratasi 350 ppm (IPCC sres 2000) dianggap sesuai untuk sistem iklim bumi. Namun, kenaikan konsentrasi GRK seperti yang sekarang terjadi 430 ppm (IPCC,2007) telah menyebabkan efek rumah kaca yang berlebihan, sehingga menyebabkan pemanasan global dan mendorong terjadinya perubahan iklim global. Global warming menimbulkan dampak-dampak lingkungan yang serius. Global warming akan senantiasa memacu perubahan iklim, yaitu, berubahnya kondisi rata-rata parameter iklim (suhu, curah hujan, tekanan) dari satu kurun waktu ke waktu dalam jangka panjang. Global warming juga akan menyebabkan kecenderungan kenaikan suhu global. Diketahui bahwa temperature rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 ­‘C selama seratus tahun terakhir. Intergivernmental panel of climate change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar pen ingkatan temperaatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Disamping itu, global warming telah memicu kenaikan muka air laut, akibat mencairnya es di daerah kutub akibat peningkatan suhu global. Dan masih banyak dampak lainnya dari peristiwa global warming ini.

 

Kebijakan Internasional Global Warming

 

Global warming merupakan isu yang telah lama dan diketahui oleh Negara-negara dunia. Beberapa contoh kebijakan internasional terkait dengan ini ialah :

Di tahun 1992 pada Earth Summit di Rio De Janeiro, Brazil, 1510 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat.


Pada tahun 1997 di jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan protocol Kyoto. Protokol Kyoto mengatur –dan mengikat Negara-negara yang bersepakat—untuk menurunkan jumlah gas-gas pencemar yang mereka lepaskan ke angkasa planet ini, terutama gas karbon dioksida (CO2)—asap industry dan kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil—hingga ke tingkat terendah (5.2%) mulai 2012. Dari semua Negara-negara industri yang dianggap maju, hanya 39 negara saja diantaranya yang telah , menandatangani kesepakatan itu, termasuk Rusia, Jepang dan Negara-negara Eropa.


Bali Road map. Dokumen tersebut tidak menhasilkan statemen tegas tentang besaran pengurangan emisi energy (penyebab utama global warming) dalam jangka waktu tertentu.

 

Salah satu solusi yang dihasilkan dari kebijakan-kebijakan internasional tersebut ialah perdagangan emisi udara, dimana Negara atau pelaku bisnis yang berkomitmen untuk mengurangi CO2 dapat membeli atau menjual batas emisi yang diijinkan. Model lain dari perdagangan emisi adalah dimana para pemiliki penambat karbon atau karbon sink (yaitu hutan) akan mendapatkan kompensasi atas penyerapan karbon yang dilakukan oleh karbon sink tersebut. Beberapa mode lain dari perdagangan emisi ini adalah CDM, Cap dan Trade, REDD( Reducing Emmision from Defrestation dan Degradation) da VCM (Coluntary Carbon Market). Hanya saja kemudian, perdaganganm emisi ini menjadi semacam lisensi untuk tetap mengotori atmosfer.

« Entri lama